Lompat ke isi utama

Berita

Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan: Meneguhkan Demokrasi yang Bermartabat

Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan: Meneguhkan Demokrasi yang Bermartabat

Sragen, 25 Agustus 2025 – Delapan puluh tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah ruang perenungan yang meneguhkan kembali makna kedaulatan rakyat. Kemerdekaan bukan hanya catatan sejarah yang diperingati setiap tahun, melainkan napas kehidupan bangsa yang harus terus dijaga dalam setiap denyut demokrasi.

Bagi Bawaslu Kabupaten Sragen, kemerdekaan adalah fondasi moral untuk memastikan demokrasi berjalan jujur, adil, dan bermartabat. Ia bukan sekadar kebebasan dari penjajahan, tetapi juga hak mendasar setiap warga untuk bersuara, berpartisipasi, dan menentukan arah bangsanya tanpa tekanan dan diskriminasi.

Koordinator Divisi Hukum dan Penyelesaian Sengketa Bawaslu Sragen, Moh. Syamsul Arifin, menegaskan bahwa kemerdekaan selalu menuntut pengawalan. “Kemerdekaan tidak hanya berhenti pada seremoni. Ia harus hidup dalam praktik keseharian kita sebagai bangsa, dalam ruang politik yang terbuka, setara, dan bermartabat. Demokrasi yang lahir dari rahim kemerdekaan hanya akan kuat apabila dijaga bersama melalui kesadaran kolektif,” ujarnya.

Refleksi 80 tahun kemerdekaan juga menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak pernah selesai. Ia senantiasa berhadapan dengan tantangan zaman—baik kompleksitas politik lokal maupun arus besar digital yang mengubah pola interaksi masyarakat. Namun satu hal yang tetap: kemerdekaan adalah pijakan, dan demokrasi adalah jalan untuk menghidupi pijakan itu.

Pengawasan tidak boleh dipandang hanya sebagai tugas lembaga, melainkan sebagai panggilan moral bangsa. Ia adalah simbol kebersamaan, tanda bahwa rakyat tidak boleh dirampas haknya, dan jaminan bahwa kedaulatan tetap berada di tangan mereka yang berhak memilikinya.

Arifin menekankan, “Menjaga demokrasi bukan semata mandat Bawaslu, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh anak bangsa. Dengan semangat kemerdekaan, mari kita rawat demokrasi bukan hanya sebagai sistem politik, tetapi sebagai jalan peradaban menuju keadilan dan martabat manusia.”

Momentum 80 tahun kemerdekaan dengan sendirinya mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh menyimpang dari cita-cita para pendiri bangsa: menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, melindungi hak-hak warga, dan memastikan bahwa politik selalu berpihak pada kemanusiaan.

 

Penulis: Arifin

Editor: Arifin