Lompat ke isi utama

Berita

Madrasah Demokrasi, Bawaslu Sragen Bekali 164 Siswa MA Nurul Huda Jelang Pemilihan OSIM 2026/2027

123h59

SRAGEN – Menanamkan nilai-nilai demokrasi tidak harus menunggu seseorang memiliki hak pilih dalam pemilihan umum. Kesadaran untuk memilih secara cerdas, menghargai perbedaan pendapat, serta menjunjung tinggi kejujuran dan integritas perlu dibangun sejak bangku sekolah. Semangat inilah yang dihadirkan Bawaslu Kabupaten Sragen melalui kegiatan Madrasah Demokrasi Bersama Bawaslu Kabupaten Sragen di Madrasah Aliyah (MA) Nurul Huda Sragen, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan pendidikan demokrasi tersebut digelar sebagai bekal bagi para siswa dalam menyongsong Pemilihan Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) periode 2026/2027. Sebanyak 164 siswa kelas X, XI, dan XII mengikuti kegiatan ini, terdiri atas 71 siswi dan 93 siswa. Kegiatan juga diikuti dan didampingi oleh para pendidik MA Nurul Huda.

Dua anggota Bawaslu Kabupaten Sragen, Kukuh Cahyono dan Moh. Syamsul Arifin, hadir sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman mengenai demokrasi, sistem pemilihan, pentingnya partisipasi, hingga nilai-nilai pengawasan dalam proses demokrasi.

Demokrasi Bukan Sekadar Memilih, tetapi Memahami

Kepala MA Nurul Huda, Mohamad Sholihin, S.Th.I., M.Pd., saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa pelaksanaan Madrasah Demokrasi menjadi sarana penting untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai sistem demokrasi yang berlaku, baik dalam kehidupan berbangsa maupun di lingkungan sekolah.

Menurutnya, pemahaman yang baik tentang demokrasi akan menjadi bekal bagi siswa untuk melaksanakan pemilihan OSIM secara tertib, jujur, dan bertanggung jawab.

"Dengan pemahaman sistem demokrasi yang benar, pemilihan OSIM nantinya juga berjalan lancar dan tidak ada pelanggaran," ujar Sholihin.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pemahaman mengenai mekanisme pemilihan OSIM semata. Lebih dari itu, para siswa diharapkan mampu mengenal proses demokrasi yang lebih luas, termasuk penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia.

Dengan demikian, pengalaman berdemokrasi di lingkungan madrasah dapat menjadi pembelajaran awal sebelum mereka terlibat secara langsung dalam kehidupan demokrasi sebagai warga negara.

 

Tolak Politik Uang, Pilih Berdasarkan Visi dan Misi

Dalam penyampaian materinya, anggota Bawaslu Kabupaten Sragen, Kukuh Cahyono, menegaskan bahwa pelajar merupakan bagian penting dari generasi penerus bangsa yang kelak akan menentukan arah kepemimpinan dan masa depan Indonesia.

Oleh karena itu, menurutnya, pendidikan demokrasi perlu diberikan sejak dini agar para siswa memiliki kesadaran dalam menggunakan hak pilih serta memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil.

Kukuh mengajak para siswa untuk tidak menentukan pilihan hanya berdasarkan kedekatan pertemanan, popularitas, maupun iming-iming pemberian tertentu. Sebaliknya, setiap calon harus dinilai berdasarkan visi, misi, program kerja, serta komitmennya dalam membawa perubahan positif bagi lingkungan madrasah.

"Jangan sampai memilih karena adanya imbalan, baik uang maupun materi lainnya," tegas Kukuh.

Ia juga mengingatkan bahwa praktik politik uang merupakan perilaku yang bertentangan dengan semangat demokrasi. Pemilihan seharusnya menjadi ruang bagi setiap pemilih untuk menentukan pemimpin berdasarkan pertimbangan yang rasional dan hati nurani, bukan karena pengaruh materi.

Selain itu, Kukuh menekankan bahwa demokrasi memberikan ruang yang sama bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Dalam konteks pemilihan OSIM, para siswa diharapkan berani mengemukakan gagasan, memberikan masukan, serta turut menciptakan suasana pemilihan yang sehat dan terbuka.

Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi. Hal terpenting adalah setiap pihak mampu menghormati pilihan orang lain dan tetap menjaga persatuan meskipun memiliki pandangan yang berbeda.

Menyiapkan Pemilih Cerdas dan Berintegritas Sejak Bangku Sekolah

Sementara itu, anggota Bawaslu Kabupaten Sragen lainnya, Moh. Syamsul Arifin, menambahkan bahwa Madrasah Demokrasi merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan kesadaran demokrasi di kalangan pelajar sekaligus mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan demokrasi pada masa mendatang.

Ia berharap para siswa MA Nurul Huda tidak hanya memahami tata cara pemilihan, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menghargai perbedaan, mengedepankan musyawarah, bersikap jujur, bertanggung jawab, serta berani menyampaikan kebenaran.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter pemilih yang cerdas dan berintegritas. Sebab, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggaraan pemilihan yang baik, tetapi juga oleh kesadaran masyarakat dalam menggunakan hak pilih dan mengawal prosesnya.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu Kabupaten Sragen berharap pemilihan OSIM MA Nurul Huda periode 2026/2027 dapat menjadi praktik demokrasi yang edukatif bagi seluruh siswa. Proses pemilihan diharapkan berlangsung secara jujur, adil, transparan, dan bebas dari praktik yang mencederai nilai-nilai demokrasi.

Madrasah Demokrasi juga menjadi pengingat bahwa sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu pengetahuan, melainkan ruang untuk belajar tentang kepemimpinan, tanggung jawab, partisipasi, dan menghargai perbedaan.

Dari lingkungan madrasah, kesadaran demokrasi mulai ditumbuhkan. Dari bilik pemilihan OSIM, karakter pemilih yang cerdas dan berintegritas diharapkan terbentuk. Sebab, demokrasi yang berkualitas tidak lahir secara instan, tetapi tumbuh melalui pendidikan dan pembiasaan sejak dini

Penulis dan Foto: Noer

Editor: Noer