Ikut Sambut Siswa Baru Pada MPLS SMAN 3 Sragen, Bawaslu Sragen Perkenalkan Eksistensi Dan Bekali Pengetahuan Demokrasi
|
Sragen – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Sragen melaksanakan sosialisasi pendidikan demokrasi melalui momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 3 Sragen, senin (13/7/2026). Kegiatan ini sebagai tindaklanjut hasil dari audiensi kedua belah pihak sebelumnya.
Di hadapan peserta MPLS, ketua Bawaslu kabupaten Sragen, Dwi Budhi Prasetyo, terlebih dulu memperkenalkan eksistensi Bawaslu serta tema dalam kegiatan itu yaitu Suara Muda Berkarakter, Kunci Demokrasi Berkualita. Esensi dari tema itu mengajak pada peserta didik baru untuk menjadi generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap demokrasi dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menjelaskan mengenai sistem demokrasi di Indonesia yang menyelenggarakan pemilihan umum setiap lima tahun sekali sebagai wujud pelaksanaan kedaulatan rakyat. Disampaikannya mengenai pembagian lembaga negara yang terdiri atas lembaga Legislatif (DPR, DPD dan DPRD), lalu lembaga Eksekutif (Presiden, Wakil Presiden, dan para Menteri), serta lembaga Yudikatif yang meliputi Mahkamah Agung (MA), Mahkamah Konstitusi (MA), dan Komisi Yudisial (KY). Lebih lanjut ia menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat termasuk para pelajar yang notabonenya sebagai pemilih pemula dalam pemilihan umum yang menentukan arah pembangunan bangsa.
“Tantangan terbesar dalam pelaksanaan Pemilu adalah menjaga nurani, memiliki informasi yang benar, serta bertanggung jawab dalam menentukan pilihan demi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemilih pemula diharapkan memiliki karakter smart, selektif, mandiri, aktif, rasional dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Di sesi kedua, Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Kabupaten Sragen, Sumadi, memperkenalkan Saka Adhyasta Pemilu, yang merupakan wadah pembinaan generasi muda melalui Gerakan Pramuka yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pemilu.
Sumadi, lebih lanjut menjelaskan pentingnya pendidikan demokrasi bagi pemilih pemula karena setiap pilihan akan menentukan masa depan bangsa. Ia memperkenalkan karakteristik kelompok generasi pemilih, yaitu Baby Boomer, Generasi X, Milenial, dan Generasi Z. Menurutnya Generasi Z cenderung kritis terhadap isu sosial dan politik, namun juga rentan terhadap fenomena Fear of Missing Out (FOMO) sehingga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menerima informasi.
Ia juga membahas tantangan pemilu di era digital, antara lain maraknya penyebaran hoaks melalui media sosial. Karena itu ia mengajak peserta memahami pentingnya memverifikasi informasi menggunakan prinsip 5W+ 1H sebelum mempercayai ataupun menyebarkan suatu berita. Disampaikannya contoh berita dengan judul sensasional yang sering kali tak sesuai dengan isinya sehingga perlu dilakukan pengecekan kebenarannya terlebih dulu.
Peserta juga memperoleh informasi mengenai rencana pelaksanaan Pemilu tahun 2029 yang meliputi Pemilu nasional dan Pemilu lokal, serta gambaran data pemilih di Kabupaten Sragen yang berjumplah sekitar 787.363 pemilih. Ia berpesan agar peserta didik yang nantinya telah memenuhi syarat, memastikan terdata dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Dalam kesempatan berikutnya, anggota Bawaslu Kabupaten Sragen yang hadir dalam kesempatan itu, Koordinotor Divisi SDM, Organisasi, Pendidikan dan Diklat, Sri Wiharini, menyampaikan tentang etika digital dan pencegahan cyber bullying. Dalam penyampaiannya, peserta diajak menjadi Generasi Z yang santun, bijaksana, dan mampu menghargai perbedaan pendapat di media sosial. Ia mengajak peserta berdiskusi mengenai pengalaman mengikuti pemilihan kepala desa maupun pemilihan OSIS, serta memperkenalkan istilah politik uang (money politik) atau serangan fajar sebagai praktik yang bertentangan dengan nilai demokrasi.
Selain itu disampaikannya pemahaman mengenai perbedaan antara kritik dan perundungan (bullying). Dikatakannya kritik disampaikan untuk memberi masukan yang membangun, sedangkan bullying bertujuan menyakiti atau merendahkan orang lain. Ia pun mengingatkan peserta agar berhati-hati dalam menggunakan media sosial, baik itu unggahan status whatsapp, tiktok dan sebagiannya.
Kegiatan MPLS SMAN 3 Sragen yang dihadiri Bawaslu Kabupaten Sragen sebagai narasumber ini, berlangsung dengan tertib, interaktif, dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta didik baru. Melalui kegiatan ini diharapkan peserta mampu menjadi pemilih pemula yang cerdas, berintegritas, bijak dalam menggunakan media digital, serta berperan aktif dalam mejaga kualitas demokrasi.
Penulis dan Foto: Hum@s
Editor: Hum@s