Ma’rifatun Nafs dalam Peningkatan Kapasitas Kerohanian SDM Bawaslu Sragen
|
Sragen - Salah satu agenda rutin yang digelar setiap dua minggu sekali di Bawaslu Kabupaten Sragen adalah peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Pada Kamis (24/9/2026), kegiatan tersebut mengusung materi kerohanian dengan tema Ma‘rifatun nafs.
Ketua Bawaslu Kabupaten Sragen, Dwi Budhi Prasetyo dalam sambutannya menyampaikan setiap orang memiliki tingkat keimanan masing-masing. Sesuai dengan tema ini, kegiatan diharapkan mendorong kesadaran sejauh mana keimanan yang dimiliki untuk kemudian meningkatkan semangat menjadi lebih baik lagi, termasuk dalam hubungan dengan sesama.
Ma’rifatun nafs, atau mengenal diri sendiri dalam kesempatan itu, disampaikan mendalam oleh Sumadi. Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat itu mengutip dari kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah, bahwa Ma’rifatun nafs adalah suatu kesadaran mendalam bahwa manusia itu lemah, tidak memiliki daya dan upaya, serta sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT.
Disampaikannya bahwa konsep mengenal diri untuk mengenal Tuhan sering diasosiasikan dengan ungkapan ‘man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’ mengajarkan bahwa manusia yang paham akan hakikat dirinya akan sampai pada pengenalan akan Sang Pencipta.
Untuk bisa mencapai Ma’rifatun nafs, ia mengutarakan langkah apa saja dapat dikerjakan. Pertama, menyadari kelemahan dan ketiadaan diri (faqir ilallah). Untuk itu, hilangkan rasa memiliki. Manusia harus sadar bahwa segala kekuatan, kecerdasan, harta, dan kemampuan bukanlah milik pribadi, melainkan sekadar titipan atau pinjaman dari Allah. Sadari bahwa manusia tanpa daya dan upaya. Jika Allah mencabut kekuatan-Nya walaupun sekejap, manusia tidak akan berdaya apa pun. Menyadari hal ini menghapuskan sifat sombong, riya, dan bangga diri atas amal atau ilmu yang dimiliki.
Kedua, mengubur eksistensi diri (Idfin wujudaka). Pesan Ibnu Atha’illah dalam kitab Al-Hikam itu menyebut “Kuburlah wujudmu (eksistensimu) di bumi kerendahan.” Maksudnya seseorang tidak perlu haus pujian, atau pengakuan manusia. Ambisi ego untuk tampil menonjol harus ditekan agar amal dan niat murni karena Allah dapat tumbuh dengan sempurna.
Ketiga, Introspeksi perilaku sehari-hari. Untuk mengetahui diri kita dan di mana kedudukan kita, lihatlah di tempat mana Allah menempatkan kita dalam keseharian. Jika hari-hari diisi dengan ketaatan, kebaikan dan zikir, maka bersyukurlah. Sebaliknya jika terjebak dalam kemaksiatan itu cerminan diri yang masih lalai dan membutuhkan tobat.
Keempat, mengenal kekurangan, bukan kelebihan. Saat bermunajat atau menghadap Allah, senantiasa menampakkan kehinaan dan kekurangan dirinya. Merasa diri banyak dosa dan kurang di hadapan Allah adalah kunci kejujuran seorang hamba yang justru akan mengangkat derajat kemuliaan di sisi-Nya.
Sebelum mengakhiri, Sumadi berpesan untuk mengisi hari-hari dengan meningkatkan ibadah, dan memberi manfaat kepada orang lain. Kumpulkan amal kebaikan sebanyak-banyaknya untuk bekal tujuan akhirat yang abadi.
Peningkatan Kapasitas SDM melalui segmen kerohanian ini, bagi Bawaslu Kabupaten Sragen sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas keimanan sebagai pondasi yang menunjang profesionalitas dan integritas dalam tugas pengawasan Pemilu.
Penulis dan Foto: Hum@s
Editor: Hum@s